Terkadang, saya sering ingin menitikkan air mata melihat ibu pertiwi ini “diperkosa” melalui penggarongan bertajuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan secara berjamaah. Di satu sisi, melihat para aktor di balik tindakan tersebut, saya sepenuhnya sadar bahwa mereka adalah manusia yang perlu “dimanusiakan” juga. Tapi melihat betapa banyak dana yang dicuri –yang sedianya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat- lagi-lagi membuat saya semakin pengen menangis.
Akhirnya, di tengah perasaan hopeless ini, saya mencoba menaruh harapan kepada para jurnalis, editor, atau apapun itu, untuk mengangkat fenomena ini ke permukaan. Harapan saya banyak ditujukan pada presdir PT Triwarsana, Helmi Yahya, seorang raja kuis dan raja reality show yang juga sering disebut sebagai Mark Burnett-nya Indonesia. Idenya tentu saja mengangkat fenomena tersebut dan mengemasnya sebagai komoditi yang layak jual di televisi. Apalagi, setelah tren ajang pencarian bakat (idol), game show, ataupun dunia gaib mulai mereda, reality show masih bisa menjadi primadona di banyak stasiun televisi, di samping light entertainment.
Ide ini memang relatif baru di Indonesia. Jujur saja, memang belum banyak media (terutama televisi) yang berani mengangkatnya ke publik. Saya mengamati, konsep yang agak mirip mungkin baru dimiliki “Republik BBM” yang ditayangkan di Indosiar. Kendati demikian, ide ini juga tidak benar-benar baru. Di India, misalnya, dua stasiun televisi swasta bernama Aaj Tak dan Star News menggelar reality show yang membongkar tindak korupsi tersebut melalui operasi penyamaran yang sederhana.
Aaj News misalnya, mengirim anggotanya untuk menyamar sebagai seorang eksekutif dan mendekati anggota parlemen yang kredibilitasnya diragukan. Dengan mengaku sebagai wakil dari asosiasi perusahaan, mereka titip pertanyaan ke ruang sidang dengan biaya paling murah sebesar US$ 200. Tentu saja aksi ini, termasuk detil transaksi, direkam oleh kamera tersembunyi. Gatra menulis, melalui aksi yang disebut sebagai Operation Duryodhana tersebut, Aaj News berhasil menjebak 11 anggota parlemen, yang kemudian langsung diberhentikan dari jabatannya.
Sementara itu, Star News melakukan cara yang relatif serupa dengan menjebak anggota parlemen yang meminta imbalan US$ 445.000 per tahun untuk mendapatkan kucuran dana bagi daerah perwakilan mereka. Dari operasi berkode Operation Chakravyuv ini, Star News berhasuk menjebak 7 orang anggota parlemen. Ketujuh anggota tersebut langsung diproses untuk diperiksa kasusnya oleh parlemen.
Tentu saja reality show tersebut cukup memberi “hiburan” bagi para pemirsanya. Selain membongkar keburukan mereka kepada publik, respon para anggota parlemen yang terciduk juga memberikan kelucuan tersendiri. Misalnya, ada yang semula menolak dan berkata, “ini tidak perlu,” tetapi kemudian menerima juga sogokan yang diberikan. Ada pula yang curiga langsung memeriksa tas para jurnalis dan lega setelah tidak menemukan perekam (perekam tersebut berupa pulpen yang disematkan di pakaian yang dikenakan, red). Terakhir, ada yang tersenyum lebar menyambut sogokan dan berujar, “semoga ini tidak direkam.”
Bicara soal peluang bisnis, tentu saja ide sangat prospektif. Stasiun televisi akan banyak berebut untuk menayangkannya. Sementara para pemasang iklan pastinya rela mengantri untuk mendapatkan jatah slot. Jadi soal hitung-hitungan bisnis, BEP, ROI, dan seterusnya, dijamin profitable dan feasible. Dan sepanjang yang saya tahu, mungkin tidak ada kode etik jurnalisme yang dilanggar dari konsep semacam ini.
Sementara dari sisi politis, setidaknya acara ini bisa sedikit memberikan shock therapy yang cukup lumayan. Bayangkan, betapa malunya seorang pejabat yang perilaku buruknya ditelanjangi di depan publik. Jangankan di depan publik, di depan anak dan istri pun malunya sudah luar biasa. Dengan demikian, efek shock therapynya bisa terasa.
Jadi, beranikah Helmi Yahya?
[ nofieiman.com ]
Irvany Ikhsan 6:39 pm on April 22, 2007 Permalink |
Kalau pun Pak Helmi Yahya berani, TV mana yg berani menyiarkan? Karena setiap TV tentu akan bertanya dulu ke Bos nya. Msalnya Indosiar (salim), AnTV (bakrie), TV7 (Chaerul Tanjung), belum tentu berani dan mau menyiarkan. Koruptor di Indonesia sudah sangat berkuasa dan ada dimana-mana, jadi sulit lah kalau hanya seorang Helmi Yahya ditantang buat acara spt itu….